Home » Menguak Keraguan Indonesia sebagai Identitas by Rony K. Pratama
Menguak Keraguan Indonesia sebagai Identitas Rony K. Pratama

Menguak Keraguan Indonesia sebagai Identitas

Rony K. Pratama

Published July 27th 2015
ISBN :
Hardcover
400 pages
Enter the sum

 About the Book 

Seorang sahabat berkata padaku pada suatu hari di kampus, “Anak rohani berupa tulisan tak terlepas dari kekosongan budaya.” Jika kupinjam salah satu terminologi budaya sebagai hasil cipta, karsa, dan rasa manusia, maka boleh kukatakan bahwa esaiku di sini mempunyai ruang cipta yang terintegerasikan pada pengalaman kemanusiaanku. Artinya, pelbagai esai yang terhimpun dalam buku ini kutulis dalam konteks pengalaman yang berbeda-beda.Esai ini mengenai gejolak pemikiran hal ihwal pascamembaca sebuah buku, prahara situasi-kondisi pergerakan kampus, pengalaman belajar ke negeri seberang, kritik sosial sebagai budaya tanding, dan lain sebagainya. Di samping semua rasa sebagai seseorang yang “berusaha” menjadi manusia, esai ini kutulis karena membekukan memori masa lampau. Dengan begitu, upaya mengingat kembali lalu di hari depan akan lebih terkenang melalui lembaran esai ini.Tesis yang diajukan atau pun dirumuskan di dalam tiap tubuh esai di dalam buku ini bukan sesuatu yang akhir. Ramuan gagasan yang disampaikan di tiap esai memiliki pijakan—konteks atau cakupan—masing-masing yang boleh jadi tak relevan di masa mendatang. Namun, boleh pula sebaliknya: menjadi relevan untuk konstruksi berpikir “tambahan” atau menambah referensi dalam rangka mengurangi limitasi pengetahuan diri sehingga tesis mutakhir bisa diproduksi melalui tulisan lain. Oleh sebab itu, demi munculnya “perimbangan” dalam meniti “kebenaran bersama” pelbagai kritikan atau pun masukan akan sangat berarti bagiku. Hal tersebut dimaksudkan agar terjadi suasana tegur sapa antara penulis dengan sidang pembaca. Apa yang lebih indah dari hidup selain memperkaya diri dengan lautan kebijaksanaan dan arif demi terwujud persaudaraan untuk mengarungi noktah rentang hidup yang fana ini? “Sebab, yang sejati ialah rentang nyawa setelah mati fisik,” katamu...